“Coba bayangin, bayinya tetep aja dilarang dikasih susu. Dokter anaknya bilang tunggu ASI ibunya keluar” kata ibu A. Ibu didepannya menyambar “ya itulah. Kalau dokter W sih gak gitu,..keterlaluan juga sih dokter Y itu”. Itu cuplikan percakapan yang kudengar saat antri waktu pendaftaran sekolah. Antriannya memang mayoritas ibu-ibu. Jadi semesta pembicaraannya memang seputar dunia anak.Pengen rasanya menimpali. Makanan untuk bayi memang ASI. Hanya ASI. Sampai 6 bulan bu,..Nggak usah dikasih yang lain,..
Perjuangan untuk mensosialisasikan ASI memang sudah berjalan. Ibu-ibu militan pejuang ASI banyak ditemui, contohnya member milis asiforbaby. Tapi sepertinya industri susu formula terlalu kuat pengaruhnya. Iklan yang gencar tentang ini itu yang ditambahkan di susu formula ~yang seringkali konon menambah kecerdasan~ membuat para ibu takut anaknya jadi tidak cerdas bila hanya mengkonsumsi ASI. Belum lagi harga yang selangit -dibandingkan ASI yang gratis- malah jadi gengsi tersendiri.
Paradigma yang terbolak-balik. Dan kalau ketemu komunitas yang pendapatnya seperti itu. Wah,..seperti berbusa-busa saya ngomong. Pernah, waktu nengok teman yang baru melahirkan, seorang ibu -tepatnya nenek- mengatakan pada si ibu bayi “repot ntar, kalau cuma ASI”
“wah saya malah merasa repot waktu anak pertama bu, harus ngrebus botol, malam-malam kalau anak bangun harus bener-bener melek biar ga salah takaran susu. Terlalu kental kan bisa susah tuh BABnya” sambar saya “anak kedua dan ketiga, ngrasain praktis dan hebatnya ASI,…”bla-bla-bla,..saya mengoceh panjang lebar. ASI slalu steril, gak perlu ngrebus botol, takaran selalu pas, sesuai perkembangan usia. Bukan seperti formula yang dikelompokkan 1,2,3. Untuk usia 1-6bulan, 6-12 dst. Bandingkan dengan komposisi ASI malah berubah per-periode waktu yang lebih sempit, sesuai usia bayi. Komposisinya gak pernah salah.
Belum lagi efeknya ke daya tahan tubuh. Mau ngomong kecerdasan ? Lha susu formula itu kan nyontek komposisi ASI. Belum tentu zat yang ditambahkan di susu formula bisa dicerna bayi. Kalau ASI mah, pasti bisa diserap bayi. Coba dipikir, mahal-mahal kita beli susu formula dengan zat ini itu, tapi cuma lewat alias terbuang, apa gunanya ?
Apalagi ? kedekatan emosi. Bonding ortu-anak.
Apalagi ? Pernah baca artikel tentang kecenderungan booming penderita diabetes ? Ada penelitian yang menemukan keterkaitan itu dengan pemberian susu formula terlalu dini.
Apalagi ? Banyaaaak bu. Manfaat ASI terlalu banyak kalau dibandingkan dengan susu formula,…
Si nenek dan ibu baru, temanku itu, mengangguk-angguk. Maaf ya suamiku, bertandangnya jadi lama, gara-gara ‘ceramah’ dadakan tentang ASI.
Selamatkan generasi berikutnya !
