Oleh: nining hanif | Maret 24, 2011

Nggak sebanding lah yaa,..

“Coba bayangin, bayinya tetep aja dilarang dikasih susu. Dokter anaknya bilang tunggu ASI ibunya keluar” kata ibu A. Ibu didepannya menyambar “ya itulah. Kalau dokter W sih gak gitu,..keterlaluan juga sih dokter Y itu”. Itu cuplikan percakapan yang kudengar saat antri waktu pendaftaran sekolah. Antriannya memang mayoritas ibu-ibu. Jadi semesta pembicaraannya memang seputar dunia anak.Pengen rasanya menimpali. Makanan untuk bayi memang ASI. Hanya ASI. Sampai 6 bulan bu,..Nggak usah dikasih yang lain,..

Perjuangan untuk mensosialisasikan ASI memang sudah berjalan. Ibu-ibu militan pejuang ASI banyak ditemui, contohnya member milis asiforbaby. Tapi sepertinya industri susu formula terlalu kuat pengaruhnya. Iklan yang gencar tentang ini itu yang ditambahkan di susu formula ~yang seringkali konon menambah kecerdasan~ membuat para ibu takut anaknya jadi tidak cerdas bila hanya mengkonsumsi ASI. Belum lagi harga yang selangit -dibandingkan ASI yang gratis- malah jadi gengsi tersendiri.

Paradigma yang terbolak-balik. Dan kalau ketemu komunitas yang pendapatnya seperti itu. Wah,..seperti berbusa-busa saya ngomong. Pernah, waktu nengok teman yang baru melahirkan, seorang ibu -tepatnya nenek- mengatakan pada si ibu bayi “repot ntar, kalau cuma ASI”

“wah saya malah merasa repot waktu anak pertama bu,  harus ngrebus botol, malam-malam kalau anak bangun harus bener-bener melek biar ga salah takaran susu. Terlalu kental kan bisa susah tuh BABnya” sambar saya “anak kedua dan ketiga, ngrasain praktis dan hebatnya ASI,…”bla-bla-bla,..saya mengoceh panjang lebar. ASI slalu steril, gak perlu ngrebus botol, takaran selalu pas, sesuai perkembangan usia. Bukan seperti formula yang dikelompokkan 1,2,3. Untuk usia 1-6bulan, 6-12 dst. Bandingkan dengan komposisi ASI malah berubah per-periode waktu yang lebih sempit, sesuai usia bayi. Komposisinya gak pernah salah.

Belum lagi efeknya ke daya tahan tubuh. Mau ngomong kecerdasan ? Lha susu formula itu kan nyontek komposisi ASI. Belum tentu zat yang ditambahkan di susu formula bisa dicerna bayi. Kalau ASI mah, pasti bisa diserap bayi. Coba dipikir, mahal-mahal kita beli susu formula dengan zat ini itu, tapi cuma lewat alias terbuang, apa gunanya ?

Apalagi ? kedekatan emosi. Bonding ortu-anak.

Apalagi ? Pernah baca artikel tentang kecenderungan booming penderita diabetes ? Ada penelitian yang menemukan keterkaitan itu dengan pemberian susu formula terlalu dini.

Apalagi ? Banyaaaak bu. Manfaat ASI terlalu banyak kalau dibandingkan dengan susu formula,…

Si nenek dan ibu baru, temanku itu, mengangguk-angguk. Maaf ya suamiku, bertandangnya jadi lama, gara-gara ‘ceramah’ dadakan tentang ASI.

Selamatkan generasi berikutnya !


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.